By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Akurat, Tajam dan TerpercayaAkurat, Tajam dan TerpercayaAkurat, Tajam dan Terpercaya
  • Nasional
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sosial
    • Kabar Desa
  • Daerah
    • Ekonomi
    • Hankam
    • Hukum & Kriminal
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    • Peristiwa
  • Internasional
  • Seni & Budaya
    • Budaya
    • Mistik
    • Seni
  • Sports
  • Lifestyle
    • Kecantikan
    • Kuliner
    • Selebrity
    • Wisata
    • Suara Tokoh
    • Opini
Reading: Empat Aspek Penting dalam Pembelajaran Jarak Jauh
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Akurat, Tajam dan TerpercayaAkurat, Tajam dan Terpercaya
  • Kuliner
  • Sports
  • Wisata
  • Nasional
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sosial
    • Kabar Desa
  • Daerah
    • Ekonomi
    • Hankam
    • Hukum & Kriminal
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    • Peristiwa
  • Internasional
  • Seni & Budaya
    • Budaya
    • Mistik
    • Seni
  • Sports
  • Lifestyle
    • Kecantikan
    • Kuliner
    • Selebrity
    • Wisata
    • Suara Tokoh
    • Opini
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Media Bhantaran News Network. AWLabs Design Company. All Rights Reserved.
Akurat, Tajam dan Terpercaya > Blog > Berita > Daerah > Pendidikan > Empat Aspek Penting dalam Pembelajaran Jarak Jauh
BeritaDaerahPendidikan

Empat Aspek Penting dalam Pembelajaran Jarak Jauh

admin
Last updated: Oktober 18, 2020 11:19 pm
By admin 5 Min Read
Share
SHARE

Dirjen Pendidikan Tinggi Kemdikbud RI, Prof. Nizam, tengah mengembangkan sistem blockchain untuk mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ). Foto: Ist

 

 

 

JAKARTA – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bukanlah suatu hal baru di Indonesia.

PJJ sudah berlangsung sejak 1987 ketika Indonesia membangun Universitas Terbuka (UT).

PJJ bisa diselenggarakan mulai dari lingkup perguruan tinggi (PT), program studi, hingga mata kuliah tertentu.

Ruang lingkup ini sesuai dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya Nomor 7 tahun 2020 Pasal 43 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Demikian seperti diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdikbud, Prof. Nizam.

Nizam menyampaikannya dalam webinar Sinergi UGM dan KAGAMA: Membangun Ekosistem Digital Learning, Kamis (15/10/2020).

Webinar ini digelar oleh UGM Kampus Jakarta dan Pengurus Pusat KAGAMA.

“Pola baru yang sebenarnya kami dorong untuk PJJ adalah adanya agregator pembelajaran daring,” tutur Nizam.

“Pembelajaran daring tidak sekadar dosen mengajar direkam dan diunggah di YouTube. Kalau seperti itu, sudah ada miliaran materi di YouTube.”

“Sebab, pendidikan jarak jauh lebih banyak aspeknya daripada sekadar pembelajaran melalui media digital,” jelas alumnus Jurusan Teknik Sipil UGM ini.

Karena itu, lanjut Nizam, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemdikbud merasa perlu membangun ekosistem pembelajaran daring.

Untuk itu, Dikti kini kini tengah membangun Institut Pendidikan Siber Indonesia yang dimotori oleh UT.

Peran UT adalah agregator bagi seluruh perguruan tinggi dalam berbagi modul atau materi pembelajaran.

“Ide mengenai konsep ini sebenarnya sudah kami luncurkan sejak 2000-an dengan berbagai pendekatan, tetapi belum take-off,” kata Nizam.

“Nah, hal ini kemudian menjadi lebih relevan lagi dengan adanya pembelajaran daring yang telah terjadi. Tujuh juta mahasiswa kita tiba-tiba harus berhadapan dengan layar setiap hari,” terangnya.

Nizam melanjutkan, pembelajaran daring punya empat aspek penting. Yakni konten yang bisa diakses semua orang (1), open courses: perkuliahan terstruktur (2), pembelajaran bisa online bisa separuh online (3).

Kemudian, sertifikasi: bagaimana mengubah pembelajaran menjadi kredit (4), dan gelar yang sepenuhnya diberikan via pembelajaran jarak jauh seperti UT (5). Keseluruhan aspek tersebut dikelola dalam sistem blockchain.

Sehingga, kata Nizam, antara mahasiswa, dosen, dan PT dapat melakukan itu di dalam satu sistem yang aman, dan terjaga kualitasnya.

“Blockchain yang sedang kita kembangkan saat ini bertujuan untuk bisa menghubungkan antara pengguna dan penyedia layanan pendidikan,” kata Nizam.

Dekan Fakultas Teknik UGM periode 2017-2020 ini menerangkan, jauh sebelum Institut Siber Indonesia berdiri, Indonesia sudah memulai konsep serupa. Yakni melalui SPADA (Sistem Pembelajaran Daring) yang sudah dirintis sejak 2014.

Namun, SPADA kala itu baru open content, belum open courses. SPADA dimulai dengan mendukung 30 mata kuliah dan 240 modul yang kala itu diselenggarakan oleh 6 PT dan diikuti lebih dari empat ribu mahasiswa.

Nizam mengatakan, cukup banyak yang menggelar pembelajaran menggunakan SPADA pada awalnya.

Namun, jumlah penggelar dan pesertanya lambat laun turun. Pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini menjadi momentum untuk memperkuat dan mengembangkan SPADA.

Di SPADA, kini ada 179 perguruan tinggi penyedia open courses dengan 2010 perguruan tinggi penerima layanan, serta 23.093 mahasiswa peserta.

“Saat ini sudah ada lebih dari tiga ribu modul tersedia di SPADA. SPADA sifatnya open content, open courses. Tidak dalam bentuk penyelenggaraan pendidikan jarak jauh,” kata Nizam.

Baca juga: Tak Mau Menjadi Ahli Gizi, Levi Menikmati Perannya di Bidang Industri Makanan

“Tetapi dalam bentuk resources yang tersedia dan bisa digunakan untuk pembelajaran blended learning (separuh online), maupun untuk akses buat mahasiswa maupun dosen,” bebernya.

Tidak berhenti di situ, Dikti juga menyediakan akses International Massive Open Online Course (MOOC).

Yakni kesempatan bagi mahasiswa atau dosen untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dari lembaga/instansi internasional. Serta melakukan kegiatan bersertifikasi kompetensi dan industri global.

“Pekan lalu, seluruh jajaran perguruan tinggi negeri di bawah naungan PGRI menyelenggarakan MOOC. Itu bisa diikuti dan diakui sebagai kredit,” kata Nizam.

“Kami juga bekerja sama dengan AWS, Cisco, Huawei, dan Google, untuk bisa membangun kapasitas SDM kita dalam teknologi digital,” terangnya.

Baca juga: Staf Ahli Kemenkeu: Pemerintah Telah Memberikan Perhatian Penuh pada Pengembangan UMKM Sejak Sebelum Pandemi

Nizam mengaku, Dikti telah menyiapkan sistem PJJ yang memungkinkan diselenggarakan mulai mahasiswa masuk kuliah hingga lulus.

Sebab, mahasiswa kini telah punya akses yang luas dan utuh. Tidak sekadar akses modul, tetapi juga akses terhadap tutor, dosen, perpustakaan, jejaringnya, serta kerja sama dengan mahasiswa lain.

Kemudian, laboratorium, studio, bengkel, dan industri baik virtual dengan enhance reality maupun fisik.

Sumber : KAGAMA.CO

You Might Also Like

Bengkel Motor di Compreng Widang Ludes Terbakar

AKBP Alaiddin Resmi Menjabat Sebagai Kapolres Tuban

Tinjau Banjir di Lamongan, Gubernur Jatim Ajak Warga Selalu Waspada

Sekda Tuban Pimpin Apel Perdana 2026, Tekankan Arah Kebijakan Pemkab Tuban

74 Personil Polres Tuban Menerima Kenaikan Pangkat

Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Previous Article Pupuk Bersubsidi di Tuban Tercukupi Hingga Akhir 2020
Next Article Presiden: Yakinkan Indonesia Aman untuk Jadi Tempat Penyelenggaraan

Populer

Lamongan Jadi Pilot Project Simulasi Penebusan Pupuk Subsidi Sektor Perikanan
Daerah
Bupati Tuban Menyerahkan 975 Sertipikat Tanah Wakaf
Berita
Pemkab Tuban Dinobatkan Sebagai Kabupaten Terbaik dalam Pemanfaatan Data Pendidikan
Daerah
Puluhan Rumah di Tuban Rusak Diterjang Angin Puting Beliung
Peristiwa
Dugaan Salah Tangkap 8 Oknum Anggota Polres Tuban Kini Ditangani Bidpropam Polda Jatim
Hukum & Kriminal
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
- Advertisement -

BhantaranBhantaranBhantaran

Bhantaran

Akurat, Tajam dan Terpercaya

Kami adalah media online yang menyajikan berita yang tajam dan akurat untuk Anda.

Sumber Informasi Terpercaya

Terkini

  • Bengkel Motor di Compreng Widang Ludes Terbakar
  • AKBP Alaiddin Resmi Menjabat Sebagai Kapolres Tuban

Afiliasi

Link

Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kerahasiaan Pribadi
Tentang Kami
© 2024 Media Bhantara News Network. AWLabs Design. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?