By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Akurat, Tajam dan TerpercayaAkurat, Tajam dan TerpercayaAkurat, Tajam dan Terpercaya
  • Nasional
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sosial
    • Kabar Desa
  • Daerah
    • Ekonomi
    • Hankam
    • Hukum & Kriminal
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    • Peristiwa
  • Internasional
  • Seni & Budaya
    • Budaya
    • Mistik
    • Seni
  • Sports
  • Lifestyle
    • Kecantikan
    • Kuliner
    • Selebrity
    • Wisata
    • Suara Tokoh
    • Opini
Reading: Mengulik Kelor sebagai Etnobotani Orang Wolio
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Akurat, Tajam dan TerpercayaAkurat, Tajam dan Terpercaya
  • Kuliner
  • Sports
  • Wisata
  • Nasional
    • Politik
    • Ekonomi
    • Sosial
    • Kabar Desa
  • Daerah
    • Ekonomi
    • Hankam
    • Hukum & Kriminal
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    • Peristiwa
  • Internasional
  • Seni & Budaya
    • Budaya
    • Mistik
    • Seni
  • Sports
  • Lifestyle
    • Kecantikan
    • Kuliner
    • Selebrity
    • Wisata
    • Suara Tokoh
    • Opini
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2024 Media Bhantaran News Network. AWLabs Design Company. All Rights Reserved.
Akurat, Tajam dan Terpercaya > Blog > Berita > Daerah > Kesehatan > Mengulik Kelor sebagai Etnobotani Orang Wolio
BeritaDaerahKesehatan

Mengulik Kelor sebagai Etnobotani Orang Wolio

admin
Last updated: Oktober 1, 2021 1:40 am
By admin 3 Min Read
Share
SHARE

arsip.bhantaran.com — Kelor merupakan salah satu jenis tanaman yang memberikan banyak manfaat. Penelitian mengenai daun kelor ini bisa juga dilakukan dengan pendekatan Etnobotani. Dalam masyarakat Wolio kelor juga berkaitan dengan budaya yang mereka miliki.

Kaudhawa atau nama lain kelor di masyarakat Wolio yang berasal dari kau yang artinya kayu dan dhawa yang artinya perekat atau dapat disimpulkan adalah lem kertas. Kelor oleh masyarakat Wolio banyak dimanfaatkan untuk keseharian dari mulai sebagai sayuran dan pakan ternak, obat obatan, karbit alami, hingga kegunaan lainnya.

“Salah satu contohnya dalam ungkapan masyarakat Wolio yaitu Kelor itu sayurnya orang banyak (Kaudhwa yitu tawana kauna mia bhari) artinya kelor merupakan sayur yang umum di orang Walio,” terang Dr. Wa Ode Winesty Sofyani, M.Hum. dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo, dalam paparannya pada Kajian Antropologi Indonesia Senin (27/9).

Kelor juga berkaitan erat dengan budaya di dalam masyarakat Wolio. Tak hanya dalam ungkapan, Kelor ini juga menjadi pameo, teka teki, dan tabu yang berupa larangan dan pantangan di masyarakat Wolio.

Dalam paparan tanggapan, Prof. Dr. Purnomo, M.S., dosen Fakultas Biologi UGM, menjelaskan untuk melihat manfat kelor diperlukan banyak pendekatan keilmuan seperti Farmasi yang dapat mengidentifikasi kandungan kelor serta manfaatnya.

“Klasifikasi morfologi kelor menurut etnis merupakan hal yang menarik. Dari sini kita dapat melihat terdapat kelor perempuan dan laki laki yang juga dikaitkan dengan rasa enak dan tidaknya kelor,” ungkap Purnomo dalam tanggapannya.

Dalam variannya menurut etnis, terdapat 4 varian kelor yaitu kelor liar yang memiliki rasa enak dan tidak enak serta kelor budi daya yang memiliki rasa enak dan tidak enak.

“Apakah kelor yang enak dimakan dan tidak enak maka tidak dimakan,” papar Purnomo. Ia menambahkan bahwa ini dapat menjadi pemantik untuk keberlanjutan penelitian bagaimana manfaat dari tiap tiap jenis kelor yang ada.

Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M.Phil., Guru Besar Antropologi FIB UGM sekaligus sebagai penggagas dan koordinator acara, memberikan tanggapan serupa bahwa perlu ada perluasan dimensi dari penelitian etnobotani dengan etnosains terkait kelor sehingga dapat memaksimalkan manfaat kelor.

Resource : ugm.ac.id

You Might Also Like

Lagi, Kodim Bojonegoro Salurkan 800 Ribu Liter Air Bersih di 34 Desa Terdampak Kekeringan

Sambut HUT TNI Ke-81, Kodim Bojonegoro bersama Polkes bekali Ratusan Pelajar Jurus Penyelamat ‘AMAN–CPR’

Kodim Bojonegoro Salurkan 130 Ribu Liter Air Bersih di 7 Kecamatan Terdampak Kekeringan

Sosialisasi Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa, Begini Arahan BPK RI dan Bupati Tuban

Gadis Palembang Bikin Bangga UI! Grimonia Patriosa Sabet Wakil I None Jakarta Pusat 2026

Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Previous Article Mencuri di Counter Handphone, Warga Desa Tegalrejo Widang Ditahan Polres Tuban
Next Article Niat Mandi Bocah Asal Desa Simorejo Widang Tenggelam di Sudetan Siluman Sungai Bengawan Solo

Populer

KPK Tangkap Tangan Tersangka Dugaan Suap dan Penerimaan Lainnya di Kementerian ATR/BPN
Headline
Money Politik Pilkades Melahirkan Pemimpin “Semau Gue”
Opini Opini
Bupati Lamongan Sampaikan Rancangan Perubahan APBD
Uncategorized
Ikan Zebra Potensi jadi Hewan Model Riset Biomedis
Breaking News
Operasi Gabungan, 3.040 Batang Rokok Ilegal Ditemukan di Lamongan
Berita
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad image
- Advertisement -

BhantaranBhantaranBhantaran

Bhantaran

Akurat, Tajam dan Terpercaya

Kami adalah media online yang menyajikan berita yang tajam dan akurat untuk Anda.

Sumber Informasi Terpercaya

Terkini

  • Lagi, Kodim Bojonegoro Salurkan 800 Ribu Liter Air Bersih di 34 Desa Terdampak Kekeringan
  • Sambut HUT TNI Ke-81, Kodim Bojonegoro bersama Polkes bekali Ratusan Pelajar Jurus Penyelamat ‘AMAN–CPR’

Afiliasi

Link

Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kerahasiaan Pribadi
Tentang Kami
© 2024 Media Bhantara News Network. AWLabs Design. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?