YOGYAKARTA, bhantaran.com – Ikan Zebra atau sering dikenal dengan nama zebrafish (Danio rerio) merupakan ikan tropis merupakan ikan jenis akuarium yang berukuran kecil yang cepat berkembangn biak namun memiliki kesamaan genetik dengan manusia. Belakang ini ikan ini sering digunakan sebagai hewan model dalam riset biomedis. “Ikan ini digunakan sebagai hewan model untuk mempelajari penyakit, khususnya tuberkulosis dan kanker serta konsep konversi dosis obat dari zebrafish ke manusia sebagai salah satu pendekatan dalam penelitian translasional,” kata Prof. Herman Spaink dari Universitas Leiden dalam workshop berjudul “Fish Disease Models and Bioinformatics” yang berlangsung di Fakultas Biologi UGM, Senin (13/7) lalu.
Menurutnya, ikan zebra ini sudah banyak digunakan sebagai hewan model dalam riset biomedis sehingga diperlukan keterampilan analisis bioinformatika dalam penggunaan hewan model ini dalam penelitian penyakit serta analisis data transkriptomik.
Spaink yang ahli di bidang biologi sel molekuler dan imunologi dalam kesempatan tersebut juga mengulas pemanfaatan teknologi live imaging untuk mengamati dinamika penyakit secara real-time serta peran Toll-like Receptor 2 (TLR2) dalam respons imun terhadap infeksi. “Teknologi ini mampu memberikan gambaran mengenai perkembangan zebrafish sebagai salah satu platform penting dalam memahami mekanisme penyakit sekaligus mendukung pengembangan terapi barum,” ujarnya.
Dosen Fakultas Biologi UGM, Dr. Luthfi Nurhidayat, mengatakan pelatihan pemanfaatan ikan zebra sebagai hewan model dan analisis bioinformatika memberikan pengalaman bagi peneliti dan laboran untuk mengetahui integrasi pendekatan eksperimental dan komputasional dalam penelitian biologi modern.
Menurut Luthfi, lewat penyelenggaraan workshop Fish Disease Models and Bioinformatics ini, Fakultas Biologi UGM kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia di bidang ilmu hayati, memperkuat kolaborasi akademik internasional, sekaligus memfasilitasi transfer pengetahuan dan teknologi kepada mahasiswa, peneliti, dan masyarakat. “Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi peserta sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi riset yang inovatif di bidang penyakit infeksi, biomedis, dan bioinformatika,” ujarnya.
Seperti diketahui, pelatihan kali ini para peserta memperoleh pemahaman mengenai penggunaan hewan model menggunakan perangkat bioinformatika. Selanjutnya, pelatihan bioinformatika dilaksanakan secara hands-on yang berfokus pada analisis data transkriptomik menggunakan RStudio. Dalam sesi praktik tersebut, peserta mempelajari alur analisis data RNA sequencing (RNA-seq), mulai dari pengolahan data, analisis ekspresi gen diferensial, hingga interpretasi hasil.
SC: ugm.ac.id

